Wednesday, August 17, 2016

Siswa sekolah bawa motor kena tilang bila di berlakukan secara nasional gimana?

sumber gambar solopos.com

Di Sulawesi barat dan di Solo telah dibuat peraturan baru buat para siswa yang bersekolah bawa motor kena tilang. memang di sini masyarakat ada yang pro dan kontra dengan berbagai alasan. hal itu karena peraturan itu memiliki dampak dua sisi. negatif dan positif. positifnya angka kecelakaan yang sebagian besar di alami oleh anak-anak sekolah jadi berkurang. bila lulusan sekolah budaya coret-coret lalu konvoi dengan motor akan hilang! kemudian mencegah anak keluyuran dengan motor ke tempat yang gak jelas saat pulang sekolah/saat jam sekolah (bolos) dan mungkin masih banyak lagi lainnya. kalau alasan masalah transportasi umum kurang memadai mungkin kurang tepat di jadikan alasan penolakan peraturan baru ini. karena jaman dulu saja siswa sekolah juga banyak dan belum banyak motor tapi tetap bisa sekolah kan? memang sih dulu gak seruwet sekarang, tapi tetap saja dulu bisa kenapa sekarang gak bisa?

sisi negatifnya siswa-siswa gak bisa bawa motor jadi gak bisa hemat waktu lebih banyak dari biasanya. kalaupun sarana transport memadai kan dikit-dikit berhenti nurutin angkotnya. jadi gak bisa langsung sampai sekolah seperti pas bawa motor. hasilnya sebagian waktu mereka berkurang. kan lumayan kalau bisa ngirit waktu 30 menit atau lebih bisa di buat belajar atau kegiatan poisitif lainnya. apalagi masalah kecelakaan di jalan kalau anak sekolah sekelas SMA bukan berarti mereka gak bisa, sudah lihai biasanya. cuman mereka ugal-ugalan dan sembarangan di jalan. itu bukan faktor usia karena yang tuapun juga begitu, memang dari individu masing-masing sebenarnya. banyak kok anak masih belum 17 tahun santun saat mengendarai motor. jadi selain dari individu, orang tua juga bertangung jawab atas cara anak mengendarai kendaraan dengan benar di jalan. 

kalau sudah di beritahun dengan benar mengendarai motor yang baik dan anaknya memang individunya baik ya aman-aman saja. bukan berarti aku mendukung sih, cuma menjelaskan yang aku lihat. dan itu gak berlaku bagi anak yang terlalu kecil. sisi negatif lainnya gak semua transportasi umum menjangkau daerah sebagian siswa karena ada yang terlalu pelosok. mungkin dulu-dulunya gak ada siswa dari situ karena transportasi gak memadai, tapi ada motor jadi bisa menjangkau, banyak yang memilih ke sekolah agak jauh tapi lebih baik dari yang dekat. nah kalau tiba-tiba di larang kan kasian juga jadi gak bisa memilih sekolah yang ingin di tuju lagi bila lokasinya jauh. yang terlanjur juga serba salah. naik motor kena tilang gak naik gak bisa sekolah. minta antar ortu? iya gak semua ortu jam kerjanya sama masuk pagi. kan pekerjaan macam-macam jenisnya dan waktu kerjanya.

kemudian jasa sewa tempat parkir di sekolah yang dari jaman mulai boomingnya motor di kalangan pelajar (kurang lebih 15 tahun lalu) sampai sekarang memiliki pendapatan yang lebih dari cukup dari parkiran motor bisa-bisa bangkrut. bagaimana gak bangkrut kalau motor di larang kan otomatis gak ada siswa bawa motor, memang sih ada sepeda pancal, tapi itupun siswa yang jaraknya dekat/gak terlalu jauh. kalau yang jauh-jauh gak naik motor dan gak parkir jelas penurunan signifikan penghasilannya. kan kebanyakan lokasi sekolah dengan rumah siswa gak jarang lebih banyak yang jauh daripada yang dekat. kalau seumpama di realisasi seluruh indonesia perartuean siswa bawa motor kena tilang ya banyak yang tutup parkirannya. 

itu tadi sisi positif dan negatifnya bila di jadikan peraturan secara nasional. secara lokal saja sudah pro dan kontra, kalau secara nasional  jadi kayak gimana ya? ^_^ soalnya ada positif dan negatifnya jadi mungkin itu yang sulit di pertimbangkan pemerintah. kalau menurut sahabat/saudara sekalian bagaimana, setuju apa gak seumpama di terapkan secara nasional? salam bikers salam persaudaraan, apapun motor dan merknya bikers adalah saudara!

No comments: