Friday, August 23, 2019

kisah duka perjalana kulinerku part 3 (penjual martabak)


Di tempat Risdiken tinggal ada sebuah martabak legendaris. Legendaris bukan karena rasanya yang enak banget ya. Enak tapi gak wah. Walaupun begitu bisa dikatakan paling enak di daerah sekitar Risdiken. Dan itu berlangsung cukup lama turun temurun. Walaupun banyak yang jualan martabak dan terangbulan dengan khas modern di kemas rapi indah dan rasanya enak seperti martabak dan terang bulan kelas restoran mewah, martabak yang Risdiken maksud legendaris ini rasanya gak kalah jadi tetap gak sepi pembeli.

Dari jaman risdiken masih sekolah TK sampai sekarang sudah puluhan tahun. Walaupun begitu tetap gak sepi. Saat lainnya Pakai bungkus kardus seperti kue mewah, martabak ini di bungkus kertas minyak dan koran doang, tapi karena enak tetap di suka. Kisah sedih di mulai disini. Ternyata sang legendaris penjual martabak ini meningal dunia. beliau meninggal karena kecelakaan di jalan. makanya kok saat Risdiken beli kok gak pernah melayani hanya anaknya saja? ternyata saudaraku yang juga langganan bilang bahwa yang jualan sebenarnya sudah meninggal.

kini jadi anaknya saja yang melayani. jauh sebelum meninggal anaknya juga ikut jualan jadi bercabang. setelah pendirinya meninggal tapi kini tinggal anaknya saja, jadi gak jaulan di 2 tempat lagi. akhirnya waktu terus berlanjut, penjual martabak pun tetap jualan seperti biasanya. Risdiken juga tetap beli seperti biasanya pas lagi pengen. dan saat pulang selesai kerjaan beres lho kok gak jualan? aku lihat libur dan lewat jalan biasanya kok tetap gak buka? akhirnya saudaraku bilang alasan gak jualan karena anaknya yang jualan juga meninggal (suadaraku tau dari penjual makanan dekat rumahnya yang juga dekat rumah anak penjual martabak tadi).

Risdiken kaget, lho kan masih muda mas? iya masih muda, anaknya penjual juga punya anaknya masih kecil-kecil, sayang dia meninggal juga karena hal yang gak bisa Risdiken sebutkan karena kurang etis. jadi sang legenda resepnya sudah terputus, sejak yang jualan sang ayah meninggal, sang penerus anaknya juga meninggal. martabak yang terlihat sederhana tapi di balik itu terdapat kenikmatan sudah hilang dari dunia ini. martabak penuh kenikmatan dan kenangan sudah pergi selamanya. kini tinggal martabak ala modern dan kemasan menarik yang tersisa.

ya enak sih, tapi sang legenda yang terbukti nikmat walau sederhana sudah sirna dan tak kembali lagi. seperti Soto Ayam Surabaya yang pernah aku bahas dulu dan penjual Lontong Mie. ini masuk part 3 semoga gak ada lagi. sampai disini dulu cerita Risdiken, sampai jumpa di postingan berikutnya. salam sahabat semuanya.

No comments: